Bismillahirrahmaanirrahim
Ada sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun.
Seorang anak kecil sangat senang bermain di pohon mangga setiap harinya.
Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya.
Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam
kesejukan naungan daun yang rimbun.
Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.
Waktu berlalu dengan cepatnya. Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Dia
tidak lagi suka bermain-main dan tentunya jarang mendatangi pohon mangga
itu.
Sampai suatu hari si remaja menghampiri pohon mangga dengan wajah muram.
Pohon mangga menyambutnya dengan gembira: "Mari bermain seperti dahulu".
"Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang
bermain". "Lalu apa masalahmu. Katakanlah, mungkin saya dapat
menolongmu," pohon mangga membujuk. "Begini, saya ingin mempunyai kecapi
yang merdu untuk menghibur kekasihku," si remaja ini mengutarakan
kemusykilannya.
"Oh, itu mudah, petiklah buahku, kemudian juallah untuk memperoleh uang.
Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".
Si remaja itu bangkit semangatnya. Dipetiknya buah mangga itu sampai tak
bersisa. Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan si remaja
itu dari kesusahannya.
Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon
mangga memanggilnya untuk bermain. "Saya tidak punya waktu untuk bermain,
saya telah dewasa, telah beristeri," ujar remaja yang telah dewasa itu.
"Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi," kata
pohon mangga. "Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal". Belum
sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela: "O,
mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku, cukuplah itu untuk
mendirikan rumah.
Pemuda itu lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak,
hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun. Tumbuh tidak,
matipun tidak.
Waktu berlalu, datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah menjadi
tonggak. "Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu.
Saya sudah menjelang manula. Aku ingin menikmati hari tua, berlayar di
danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?" "Tebanglah batangku
pada pangkalnya, buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.
Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, hanya tinggal
akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah.
Musim dan tahun berganti. Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang
kembali. Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya berbantalkan
akar pohon mangga.
Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika kecil kita senang bermain
dengan mereka. Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya
datang bila dianggap perlu. Padahal bagaimanapun keadaan mereka, orang tua
tetap akan memberikan segalanya kepada kita. Selayaknyalah kita mendoakan
kedua orang tua kita, minimal selesai shalat wajib lima waktu.
" Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku. Kasihanilah keduanya,
sebagaimana mereka telah memeliharaku waktu kecil " [ QS Nuuh; 71:28 - QS
Al Israa'; 17:24 ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar